Laporan Praktikum

ILMU LINGKUNGAN

Dosen Pengampu : Dr. Fitriyane Lihawa, M. Si

                                            Hasil gambar untuk LOGO UNG






Oleh :
ALAN GANI ABDUH
471 417 034


PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2018
BAB I
PENDAHULUAN



1.1    LATAR BELAKANG
Tanah terdiri dari partikel pecahan batuan yang telah diubah oleh proses kimia dan lingkungan yang meliputi pelapukan dan erosi. Tanah berbeda dari batuan induknya karna interaksi antara, hidrosfer,atmosfer,litosfer dan biosfer ini adalah campuran dari konstituen mineral dan organik yang dalam keadaan padat,gas, dan cair (Susanto 2015).

Fungsi utama tanah adalah sebagai media tumbuh makhluk hidup. Proses pembentukan tanah dimulai dari hasil pelapukan batuan induk menjadi bahan induk tanah, diikuti oleh proses pencampuran bahan organik yaitu sisa-sisa tumbuhan yang dilapuk oleh mikroorganisme dengan bahan mineral dipermukaan tanah, pembentukan struktur tanah, pemindahan bahan-bahan tanah dari bagian atas ke bagian bawah dan berbagai proses lain, sehingga apabila kita menggali lubang pada tanah maka akan terlihat lapisan-lapisan tanah yang berbeda sifat fisik, kimia, dan biologinya, lapisan-lapisan inilah yang disebut dengan horizon tanah yang terbentuk dari mineral anorganik akar. Susunan horizon tanah tersebut biasa disebut profil tanah (Hanafiah 2014).

Dengan kata lain, profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah yang menunjukkan susunan horizon tanah, dimulai dari permukaan tanah sampai lapisan bahan induk dibawahnya. Lapisan-lapisan tersebut terbentuk selain dipengaruhi oleh perbedaan bahan induk sebagai bahan pembentuknya, juga terbentuk karena pengendapan yang berulang-ulang oleh genangan air.







1.2    RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana cara memahami dan menguasai cara-cara pengukuran solum tanah.
2. Bagaimana cara menentukan tingkat kerusakan tanah untuk produksi biomasa berdasarkan parameter solum tanah.
1.3 TUJUAN PRAKTIKUM
1. Memahami dan menguasai cara-cara pengukuran solum tanah.
2. Menentukan tingkat kerusakan tanah untuk produksi biomasa berdasarkan parameter solum tanah.














BAB II
LANDASAN TEORI
Profil tanah adalah penampang melintang (vertikal) tanah yang terdiri atas lapisan tanah (solum) dan lapisan bahan induk. Adapun solum tanah adalah bagian dari profil tanah yang terbentuk sebagai akibat proses pembentukan tanah.

Perbedaan horizon tanah disebabkan pengendapan yang berulangulang oleh genangan air atau penyucian tanah (leached) dan karena proses pembentukan tanah. Proses pembentukan horizon-horizon tersebut akan menghasilkan benda alam baru yang disebut tanah. Penampang vertikal dari tanah menunjukkan susunan horizon yang disebut profil tanah. Horizon-horizon yang menyusun profil tanah dari atas ke bawah adalah horizon O, A, B, C, dan D atau R (bed rock). Adapun horizon yang menyusun solum tanah hanya terdiri atas horizon A dan B.

a. Horizon O

Horizon ini dapat ditemukan pada tanah-tanah hutan yang belum terganggu. Horizon O merupakan horizon organik yang terbentuk di atas lapisan tanah mineral.

b. Horizon A

Horizon ini terdiri atas campuran bahan organik dan bahan mineral. Horizon A merupakan horizon yang mengalami penyucian.

c. Horizon B

Horizon B terbentuk dari adanya proses penimbunan (iluviasi) dari bahan-bahan yang tercuci dari horizon A.

d. Horizon C

Horizon C tersusun atas bahan induk yang sudah mengalami sedikit pelapukan dan bersifat tidak subur.

e. Horizon D atau R

Horizon D atau R tersusun atas batuan keras yang belum terlapukan. Horizon D atau R disebut juga batuan induk atau batuan dasar. 


FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUK TANAH
Ada beberapa faktor penting yang memengaruhi proses pembentukantanah, antara lain iklim, organisme, bahan induk, topografi, dan waktu.

a.       Iklim
      Unsur-unsur iklim yang memengaruhi proses pembentukan tanah utama, yaitu suhu dan curah hujan. Suhu akan berpengaruh terhadapproses pelapukan bahan induk. Jika suhu tinggi, proses pelapukan akan berlangsung cepat sehingga pembentukan tanah akan cepat pula. Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah, sedangkan penyucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menjadi rendah.

b.      Organisme (Vegetasi dan Jasad Renik)
Organisme sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah, antara lain sebagai   berikut.
  1. Membantu proses pelapukan khususnya pelapukan organik.
  2. Membantu proses pembentukan humus. Tumbuhan akan meng hasilkan daun-daunan dan ranting-ranting yang menumpuk di permukaan tanah. Daun dan ranting itu akan membusuk dengan bantuan jasad renik (mikroorganisme) yang terdapat di dalam tanah.
  3. Jenis vegetasi berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah hutan dengan warna merah, sedangkan vegetasi rumput membentuk tanah berwarna hitam karena banyak memiliki kandungan bahan organik.
  4. Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman ber pengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Misalnya, jenis cemara akan memberi unsurunsur kimia, seperti Ca, Mg, dan K yang relatif rendah, akibatnya tanah di bawah pohon cemara derajat kea samannya akan lebih tinggi daripada tanah di bawah pohon jati.

c.    Bahan Induk
       Bahan induk terdiri atas batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Batuan induk akan hancur menjadi bahan induk, mengalami pelapukan, dan menjadi tanah.

       Tanah yang terdapat di permukaan bumi sebagian memperlihatkan sifat (terutama sifat kimia) yang sama dengan bahan induknya. Bahan induk yang masih terlihat, seperti tanah berstuktur pasir berasal dari bahan induk yang kandungan pasirnya tinggi. Susunan kimia dan mineral bahan induk akan memengaruhi intensitas tingkat pelapukan dan vegetasi di atasnya. Bahan induk yang banyak mengandung unsur Ca akan membentuk tanah dengan kadar ion Ca yang banyak pula sehingga dapat menghindari penyucian asam silikat membentuk tanah yang berwarna kelabu. Sebaliknya bahan induk yang kurang kandungan kapurnya membentuk tanah yang warnanya lebih merah.



d.      Topografi/Relief
        Keadaan relief suatu daerah akan memengaruhi pembentukan tanah, antara lain sebagai
berikut.
  1. Tebal atau tipisnya lapisan tanah. Daerah dengan topografi miringdan berbukit lapisan tanahnya menjadi lebih tipis karena tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadiproses sedimentasi.
  2. Sistem drainase atau pengaliran. Daerah yang drainasenya jelek sering tergenang air. Keadaan ini akan menyebabkan tanahnya menjadi asam.
e.       Waktu
       Tanah merupakan benda yang terdapat di alam yang terus menerus berubah, akibat pelapukan dan penyucian yang terjadi terus menerus. Oleh karena itu, tanah akan menjadi semakin tua dan kurus. Mineral yang banyak mengandung unsur hara akan habis karena mengalami pelapukan  sehingga yang tertinggal adalah mineral yang sukar lapuk, seperti kuarsa.Akibat proses pembentukan tanah yang terus berjalan maka induk tanah berubah ber turut-turut menjadi muda, tanah dewasa, dan tanah tua.

       Tanah muda ditandai oleh adanya proses pembentukan tanah yang masih tampak pencampuran antara bahan organik dan bahan mineral  atau masih tampak struktur bahan induknya. Contoh tanah muda adalahtanah aluvial, regosol, dan litosol.

       Tanah dewasa ditandai oleh proses yang lebih lanjut sehingga tanah muda dapat berubah menjadi tanah dewasa, yaitu dengan proses pembentukan horizon B. Misalnya, tanah andosol, latosol, dan grumosol.

       Tanah tua ditandai oleh proses pembentukan tanah yang berlangsung terus-menerus sehingga terjadi proses perubahan-perubahan yang nyata pada horizon-horizon A dan B. Contoh tanah pada tingkat tua adalah jenis tanah podsolik dan latosol tua (laterit).

       Lamanya waktu pembentukan tanah berbeda-beda. Bahan induk vulkanik yang lepas-lepas seperti abu vulkanik memer lukan waktu 100 tahun untuk membentuk tanah muda, dan 1.000–10.000 tahun untuk membentuk tanah dewasa.






BAB III
METODOLOGI
3.1 ALAT DAN BAHAN
a. ALAT
No
Nama alat
Gambar
Fungsi
1
Meteran gulung



Untuk mengukur panjang atau jarak, mengukur sudut, membuat sudut siku bahkan membuat lingkaran.
2
Cangkul
Untuk menggali, membersihkan tanah dari rumput ataupun untuk meratakan tanah.
3
Sekop



Untuk mengangkut pasir, menggali, membersihkan tanah dari rumput ataupun untuk meratakan tanah.
4
Belati


Untuk memotong akar pohon atau yang lainnya, jika ada.

b. BAHAN
No.
Nama bahan
Gambar
Fungsi
1
Kantung sampel
Untuk menyimpan sampel.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN KELOMPOK 1

4.1   HASIL PENGAMATAN

Patok Erosi

No
Mistar
Sebelum
Sesudah
Posisi
1
Panjang
10 cm
9,5 cm
Atas
2
Merah
10 cm
9,5 cm
Tengah
3
Pendek
11 cm
10,5 cm
Bawah


4.2   PEMBAHASAN

Lokasi praktikum terletak pada koordinat N 00o31’45,3’’  E 123o5’16,3’’. Secara administrati pemerintahan, lokasi praktikum terletak di Desa Buata, Kecamatan Botu Pingge, Kabupaten Bone bolango, Provinsi Gorontalo. Singkapan yang diamati terletak di pinggir jalan dengan kondisi agak lapuk, dengan elevasi 24 mdpl, berwarna abu-abu, bentuklahan pada lokasi praktikum meliputi bentuklahan denudasional, yang diakibatkan oleh kondisi daerah praktikium telah mengalami pelapukan dan erosi.  Jenis erosi yang terjadi pada daerah praktikummeliputi erosi alur dan erosi parit. Vegetasi pada daerah praktikum tergolong sedang. Batuan yang terdapat pada singkapan yaitu batuan sedimen. Berdasarkan ukuran butir, batuan sedimen pada singkapan terbagi atas bongkah hingga ukuran pasir, bentuk butirnya menyudut. Porositasnya baik, sortasi pada singkapan buruk, fragmennya menyudut dan semennya silikat

Jenis erosi yang terdapat pada lokasi praktikum meliputi erosi alur dan erosi parit. Erosi alur (rill erosion)terjadi karena adanya pengikisan tanah sehingga mengakibatkan alur-alur yang searah dengan kemiringan pada lereng. Pada mulanya alur-alur terbentuk masih dalam skala kecil kemudian menjadi lebih besar kearah bawah lereng. Kedalaman alur pada lokasi praktikum mencapai ±50 cm dan lebar ±46 cm. Erosi parit(gully erosion) terjadi karena diakibatkan oleh air dengan sangat kuat. Karena begitu kuat, maka lereng-lereng yang terkena erosi parit ini akan berbentuk menjadi seperti parit V atau U. Kedalaman parit pada lokasi praktikum mencapai ±115 cm dan lebar ±127 cm. Erosi parit ini juga merupakan bentuk lebih lanjut dari erosi alur.Berikut kenampakan dari erosi alur dan erosi parit pada lokasi praktikum :



·         Patok Erosi 1

Patok erosi pertama ditancapkan mistar besi panjang dengan kedalaman 10 cm. Setelah terjadi hujan, permukaan tanah yang awalnya 10 cm tererosi menjadi 9, 5 cm yang diakibatkan oleh pukulan air hujan yang membawa material permukaan tanah ke daerah yang lebih rendah.


 
·         Patok Erosi 2

Patok erosi kedua dengan menancapkan mistar panjang berwarna merah pada kedalaman 10 cm. Setelah terjadi hujan, permukaan tanah yang awalnya 10 cm tererosi menjadi 9,5 cm. Proses tersebut diakibatkan oleh pengelupasan partikel pada permukaan tanah yang terlepas dan terlempar ke udara kemudian berlanjut pada proses pengangkutan oleh aliran air tanah.

 
·         Patok Erosi 3



Patok erosi yang terakhir dengan menancapkan mistar besi pendek pada kedalaman 11 cm. Setelah terjadi hujan, permukaan tanah berubah yang dimana awalnya pada kedalaman 11 cm tererosi menjadi 10,5 cm. Perubahan ini diakibatkan oleh curah hujan yang terjadi pada daerah patok yang mengakibatkan permukaan tanah terangkat oleh aliran air hujan dan di endapkan pada dataran yang lebih rendah.







HASIL DAN PEMBAHASAN KELOMPOK 2

4.1  HASIL PENGAMATAN SOLUM TANAH

No.
Lapisan
Panjang
Warna
1.
Lapisan 1
40 cm
Coklat kehitaman
2.
Lapisan 2
60 cm
Putih kecoklatan
3.
Lapisan 3
200 cm
Putih keabu-abuan



4.2  PEMBAHASAN

Berdasarkan praktikum yang dilakukan di desa Buata kecamatan Botupingge, didapatkan titik koordinat N 0º 31ʹ 46,3ʺ dan E 123º 5ʹ 16,7ʺ dengan cuaca cerah, vegetasi yang sedang dan juga terdapat tiga lapisan. Pada lapisan yang pertama kedalaman lapisannya yaitu 40 cm dan warna tanah coklat kehitaman. Kemudian pada lapisan kedua memiliki kedalaman lapisan 60 cm dengan warna putih kecoklatan, yang terdiri dari batuan sedimen dengan batuan penyusunnya berjenis kerakal dengan diameter antara 2,5 – 10 cm. Kemudian pada lapisan ketiga memiliki kedalaman lapisan 200 cm, dengan warna putih keabu-abuan yang terdiri dari batuan sedimen dengan batuan dengan batuan penyusunnya berjenis kerikil.









HASIL DAN PEMBAHASAN KELOMPOK 3

4.1  HASIL PENGAMATAN BATUAN PERMUKAAN
1.      Batuan permukaan
Ø  Hasil Pengamatan
Tabel 1
Bongkah
10%
Krakal
40%
Krikil
30%
Krakal
50%
Krikil
10%
Krikil
15%
Bongkah
20%
Pasir
50%
Krikil
2%
Bongkah
5%
Krakal
10%
Krikil
30%
Krikil
70%
Krikil
30%
Krakal
15%
Krikil
10%

       Tabel 2
Krikil
30%
Krikil
20%
Krikil
30%
Krikil
30%
Krikil
50%
Krakal
20%
Krikil
30%
Krikil
20%
Krakal
30%
Krakal
30%
Krikil
50%
Krikil
40%
Krikil
20%
Krakal
50%
Krikil
40%
Krikil
20%


       Tabel 3
Pasir
35%
Kerikil
45%
Kerakal
65%
Pasir
75%
Kerikil
45%
Kerakal
50%
Pasir
50%
Kerikil
56%
Kerikil
75%
Kerakal
60%
Pasir
60%
Kerikil
45%
Kerakal
60%
Kerikil
65%
Pasir
50%
Kerakal
70%

4.1  PEMBAHASAN

Lokasi praktikum yang berada didesa Buata Kec. Botupingge, Kab. Bone Bolango. Yang lebih tepatnya berada pada titik koordinat N 0° 31’ 45’’ dan E 123°  5’ 16’’ denga cuaca yang cerah dan vegetasi sedang.setelah melakukan praktikum tersebut kami dapat mengetahui bahwa kondisi batuan permukaan yang berada didaerah Buata,sudah sangat kompleks,batuan permukaan yang domonan dilokasi atau pada kotak pertama tersebut adalah krikil dan krakal.dimana jika dilihat dari parameter batuan atau koperator persentasi krikil mencapai 30 % dan krakal sekitar 50%. Sedang kan pada tabel 2 dapat kita lihat bahwa batuana yang lebih dominan adalah krikil, dimana perssentasi krikil pada kotak ptersebut sebesar 50%.pengukuran yang kami lakukan adalah dengan menggunakan parameter buatan yaitu dengan membuat 3 peta kotak tanah denga ukuran 2m × 2m dan dibagi menjadi 16 bagian.setelah itu menghitung luas sebaran batuan yang ada dalam peta-peta kecil tersebut.
Dalam praktikum ini dapat ditarik kesumpulan pula bahwa dilokasi banyak dijumpai batuan dipermukaan tanah,permukaan tanah tersebut banyak didomonasi oleh batuan menunjukkakn bahwa daerah tersebut dimungkinkan telah nengalami erosi yang tinggi atau tingkat pembentukan tanah lebih rendah dibandingakan dengan tingkat kehilangan tanah akibatnya folume tanah didaerah tersebut menjadi sedikit sehingga tanah sebagai media prodeksi biomassa menjadi kecil. Berdasarkan hasil pengamatan secara leseluruhan sampel batuan permukaan didaerah desa buata beradi bawah <40 sehingga untuk batuan permukaan didaerah buata ini dinyatakan tidak rusak.jika dilihat dari total persentase dari setiap batuannya batuan permukaan tersebut termasuk dalah kerusakan yang ringan.

  




HASIL DAN PEMBAHASAN KELOMPOK 4

4.1 HASIL PENGAMATAN KOMPOSISI FRAKSI TANAH
    
Lapisan
Persentase Fraksi ( % )
Warna
Tekstur
Lapisan I
45,52%
Putih
Pasir sangat halus
Lapisan II
36,87%
Krem
Pasir halus
Lapisan III
43,29%
Cokelat
Pasir sedang

Deskripsi Singkapan :
Hari/tanggal                : Kamis, 10 Mei 2018
Lokasi praktikum        : Desa Buata, Botu
Pukul                           : 08:18 a.m
Cuaca                          : Cerah
Koordinat                    : N 00o31’45,3’’  E 123o5’16,3’’
Elevasi                         : 25 mbpl
Vegetasi                      : Sedang
Bentuk Lahan             : Denudasional
Jenis Singkapan           : Batuan Sedimen
Deskripsi Litologi :
Matriks                        : tuf
Fragmen                      : Dasit
Besar Butir                  : Bongkah-Pasir
Bentuk Butir               : Menyudut
Kemas                         : Terbuka
Struktur Sedimen        : Sekunder
Porositas                      : Baik
Permeabilitas               : sedang
Sortasi                         : Buruk
Kekompakan               : Agak Kompak
Warna                          : Abu-abu
Semen                         : Silikat

4.2 PEMBAHASAN
Lokasi praktikum terletak pada koordinat N 00o31’45,3’’ dan E 123o5’16,3’’. Secara administratif lokasi ini terletak di Desa Buata, Kabupaten Bone bolango. Singkapan yang diamati terletak di pinggir jlan dengan kondisi agak lapuk, bentuk lahan pada lokasi praktikum yaitu bentuk lahan denudasional, karena kondisi lahan praktikium telah mengalami erosi dan pelapukan.  Erosi yang terjadi berupa erosi parit dan erosi alur. Vegetasi daerah sekitar singakapan tergolong sedang. Batuan yang terdapat pada singkapan yaitu batuan sedimen. Berdasarkan ukuran butir, batuan sedimen pada singkapan terbagi atas bongkah hingga ukuran pasir, bentuk butirnya menyudut. Porositasnya baik, sortasi pada singkapan buruk, fragmennya menyudut dan semennya silikat.
Praktikum yang dilaksanakan yaitu komposisi fraksi tanah, dimana kita mngukur ukuran butir untuk menentukan tekstur dari tanah. Dalam praktikum, sampel yang diambil terbagi atas tiga sampel dari 3 macam lapisan yang ada di daerah praktikum. Berdasarkan tabel hasil pengamatan, tekstur pada lapisan I diperoleh % pasir sangat halus ( ukuran butir seper enam belas sampai seper delapan)  sebesar 45,52% sedangakan pada lapisan II diperoleh pasir halus( ukuran butir seper delapan sampai seper empat) sebesar 36,87% hal ini menunjukkan bahwa lapisan I telah mengalami erosi lebih cepat dibandingkan dari lapisan II. Sedangkan tekstur pada lapisan III ialah berupa pasir sedang ( ukurannya seper empat sampai seper dua ) sebesar 43,29%  dengan warnanya cokelat hal ini menunjukkan bahwa lapisan III tingkat erosi  yang terjadi masih rendah karena kenampakkan warna menunjukkan bahwa lapisan III masih memiliki unsur kesuburan untuk tanaman.





BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Adapun kesimpulam yang dapat ditarik adalah Pada lokasi praktikum terdapat 3 lapisan tanah dengan masing-masing ketebalan, warna serta batuan penyusunnya yang berbeda-beda,  dimana pada lapisan yang pertama kedalaman lapisannya yaitu 40 cm dan warna tanah coklat kehitaman. Kemudian pada lapisan kedua memiliki kedalaman lapisan 60 cm dengan warna putih kecoklatan, yang terdiri dari batuan sedimen dengan batuan penyusunnya berjenis kerakal dengan diameter antara 2,5 – 10 cm. Kemudian pada lapisan ketiga memiliki kedalaman lapisan 200 cm, dengan warna putih keabu-abuan yang terdiri dari batuan sedimen dengan batuan dengan batuan penyusunnya berjenis kerikil.

5.2 SARAN
Adapun saran yang dapat saya berikan ialah sekiranya agar pengolahan lingkungan sebaiknya lebih di perhatikan lagi secara baik dan benar, dan juga pentingnya kesadaran masyarakat sangat diperlukan dalam memperhatikan lingkungan agar lingkungan yang kita cintai ini dapat terus terjaga dengan baik. Dalam melaksanakan praktikum profil tanah sebaiknya memilih tanah yang mudah untuk digali agar memudahkan penggalian sehingga proses praktikum dapat berrjalan dengan mudah dan tepat








DAFTAR PUSTAKA
Annonim, 2015 Nama dan jenis tanah. https:// geology.files.wordpress.com/2012/10/
               nama-dan-jenis-tanah.pdf. Diakses pada 25 Mei 2018

Foth. Hendry D. 1998. Dasar-dasar ilmu tanah. Erlangga, Gadjah Mada University
               Press. Yogyakarta




Komentar