Laporan Praktikum
ILMU LINGKUNGAN
Dosen
Pengampu : Dr. Fitriyane Lihawa, M. Si
Oleh :
ALAN
GANI ABDUH
471
417 034
PROGRAM
STUDI TEKNIK GEOLOGI
JURUSAN
ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
NEGERI GORONTALO
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
Tanah terdiri dari partikel pecahan batuan yang telah diubah
oleh proses kimia dan lingkungan yang meliputi pelapukan dan erosi. Tanah
berbeda dari batuan induknya karna interaksi antara, hidrosfer,atmosfer,litosfer
dan biosfer ini adalah campuran dari konstituen mineral dan organik yang dalam
keadaan padat,gas, dan cair (Susanto 2015).
Fungsi utama tanah adalah sebagai media tumbuh makhluk
hidup. Proses pembentukan tanah dimulai dari hasil pelapukan batuan induk
menjadi bahan induk tanah, diikuti oleh proses pencampuran bahan organik yaitu
sisa-sisa tumbuhan yang dilapuk oleh mikroorganisme dengan bahan mineral
dipermukaan tanah, pembentukan struktur tanah, pemindahan bahan-bahan tanah
dari bagian atas ke bagian bawah dan berbagai proses lain, sehingga apabila
kita menggali lubang pada tanah maka akan terlihat lapisan-lapisan tanah yang
berbeda sifat fisik, kimia, dan biologinya, lapisan-lapisan inilah yang disebut
dengan horizon tanah yang terbentuk dari mineral anorganik akar. Susunan
horizon tanah tersebut biasa disebut profil tanah (Hanafiah 2014).
Dengan kata lain, profil tanah merupakan suatu irisan
melintang pada tubuh tanah yang menunjukkan susunan horizon tanah, dimulai dari
permukaan tanah sampai lapisan bahan induk dibawahnya. Lapisan-lapisan tersebut
terbentuk selain dipengaruhi oleh perbedaan bahan induk sebagai bahan
pembentuknya, juga terbentuk karena pengendapan yang berulang-ulang oleh
genangan air.
1.2
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana cara memahami
dan menguasai cara-cara pengukuran solum tanah.
2.
Bagaimana cara menentukan tingkat kerusakan tanah untuk produksi biomasa
berdasarkan parameter solum tanah.
1.3
TUJUAN PRAKTIKUM
1. Memahami dan menguasai cara-cara pengukuran solum
tanah.
2. Menentukan tingkat kerusakan tanah untuk produksi
biomasa berdasarkan parameter solum tanah.
BAB II
LANDASAN TEORI
Profil tanah adalah penampang melintang (vertikal) tanah yang terdiri
atas lapisan tanah (solum) dan lapisan bahan induk. Adapun solum tanah adalah
bagian dari profil tanah yang terbentuk sebagai akibat proses pembentukan
tanah.
Perbedaan horizon tanah disebabkan pengendapan yang berulangulang
oleh genangan air atau penyucian tanah (leached) dan karena proses pembentukan
tanah. Proses pembentukan horizon-horizon tersebut akan menghasilkan benda alam baru yang disebut
tanah. Penampang vertikal dari tanah menunjukkan susunan horizon yang disebut
profil tanah. Horizon-horizon yang menyusun profil tanah dari atas ke bawah
adalah horizon O, A, B, C, dan D atau R (bed rock). Adapun horizon yang
menyusun solum tanah hanya terdiri atas horizon A dan B.
a. Horizon O
Horizon ini dapat ditemukan pada tanah-tanah hutan yang belum
terganggu. Horizon O merupakan horizon organik yang terbentuk di atas lapisan
tanah mineral.
b. Horizon A
Horizon ini terdiri atas campuran bahan organik dan bahan mineral.
Horizon A merupakan horizon yang mengalami penyucian.
c. Horizon B
Horizon B terbentuk dari adanya proses penimbunan (iluviasi) dari
bahan-bahan yang tercuci dari horizon A.
d. Horizon C
Horizon C tersusun atas bahan induk yang sudah mengalami sedikit
pelapukan dan bersifat tidak subur.
e. Horizon D atau R
Horizon D atau R tersusun atas batuan keras yang belum terlapukan.
Horizon D atau R disebut juga batuan induk atau batuan dasar.
FAKTOR-FAKTOR
PEMBENTUK TANAH
Ada
beberapa faktor penting yang memengaruhi proses pembentukantanah, antara lain
iklim, organisme, bahan induk, topografi, dan waktu.
a.
Iklim
Unsur-unsur iklim yang memengaruhi proses pembentukan tanah utama, yaitu suhu dan curah hujan. Suhu akan berpengaruh terhadapproses pelapukan bahan induk. Jika suhu tinggi, proses pelapukan akan berlangsung cepat sehingga pembentukan tanah akan cepat pula. Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah, sedangkan penyucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menjadi rendah.
Unsur-unsur iklim yang memengaruhi proses pembentukan tanah utama, yaitu suhu dan curah hujan. Suhu akan berpengaruh terhadapproses pelapukan bahan induk. Jika suhu tinggi, proses pelapukan akan berlangsung cepat sehingga pembentukan tanah akan cepat pula. Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah, sedangkan penyucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menjadi rendah.
b.
Organisme (Vegetasi dan
Jasad Renik)
Organisme
sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah, antara lain sebagai berikut.
- Membantu
proses pelapukan khususnya pelapukan organik.
- Membantu
proses pembentukan humus. Tumbuhan akan meng hasilkan daun-daunan dan
ranting-ranting yang menumpuk di permukaan tanah. Daun dan ranting itu
akan membusuk dengan bantuan jasad renik (mikroorganisme) yang terdapat di
dalam tanah.
- Jenis
vegetasi berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Vegetasi hutan dapat
membentuk tanah hutan dengan warna merah, sedangkan vegetasi rumput
membentuk tanah berwarna hitam karena banyak memiliki kandungan bahan
organik.
- Kandungan
unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman ber pengaruh terhadap
sifat-sifat tanah. Misalnya, jenis cemara akan memberi unsurunsur kimia,
seperti Ca, Mg, dan K yang relatif rendah, akibatnya tanah di bawah pohon
cemara derajat kea samannya akan lebih tinggi daripada tanah di bawah
pohon jati.
c. Bahan Induk
Bahan induk terdiri
atas batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Batuan
induk akan hancur menjadi bahan induk, mengalami pelapukan, dan menjadi tanah.
Tanah yang terdapat di
permukaan bumi sebagian memperlihatkan sifat (terutama sifat kimia) yang sama
dengan bahan induknya. Bahan induk yang masih terlihat, seperti tanah
berstuktur pasir berasal dari bahan induk yang kandungan pasirnya tinggi.
Susunan kimia dan mineral bahan induk akan memengaruhi intensitas tingkat
pelapukan dan vegetasi di atasnya. Bahan induk yang banyak mengandung unsur Ca
akan membentuk tanah dengan kadar ion Ca yang banyak pula sehingga dapat
menghindari penyucian asam silikat membentuk tanah yang berwarna kelabu.
Sebaliknya bahan induk yang kurang kandungan kapurnya membentuk tanah yang
warnanya lebih merah.
d. Topografi/Relief
Keadaan relief suatu
daerah akan memengaruhi pembentukan tanah, antara lain sebagai
berikut.
- Tebal
atau tipisnya lapisan tanah. Daerah dengan topografi miringdan berbukit
lapisan tanahnya menjadi lebih tipis karena tererosi, sedangkan
daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadiproses sedimentasi.
- Sistem
drainase atau pengaliran. Daerah yang drainasenya jelek sering tergenang
air. Keadaan ini akan menyebabkan tanahnya menjadi asam.
e.
Waktu
Tanah merupakan benda yang terdapat di alam yang terus menerus berubah, akibat pelapukan dan penyucian yang terjadi terus menerus. Oleh karena itu, tanah akan menjadi semakin tua dan kurus. Mineral yang banyak mengandung unsur hara akan habis karena mengalami pelapukan sehingga yang tertinggal adalah mineral yang sukar lapuk, seperti kuarsa.Akibat proses pembentukan tanah yang terus berjalan maka induk tanah berubah ber turut-turut menjadi muda, tanah dewasa, dan tanah tua.
Tanah merupakan benda yang terdapat di alam yang terus menerus berubah, akibat pelapukan dan penyucian yang terjadi terus menerus. Oleh karena itu, tanah akan menjadi semakin tua dan kurus. Mineral yang banyak mengandung unsur hara akan habis karena mengalami pelapukan sehingga yang tertinggal adalah mineral yang sukar lapuk, seperti kuarsa.Akibat proses pembentukan tanah yang terus berjalan maka induk tanah berubah ber turut-turut menjadi muda, tanah dewasa, dan tanah tua.
Tanah muda ditandai
oleh adanya proses pembentukan tanah yang masih tampak pencampuran antara bahan
organik dan bahan mineral atau masih tampak struktur bahan induknya.
Contoh tanah muda adalahtanah aluvial, regosol, dan litosol.
Tanah dewasa ditandai
oleh proses yang lebih lanjut sehingga tanah muda dapat berubah menjadi tanah
dewasa, yaitu dengan proses pembentukan horizon B. Misalnya, tanah andosol,
latosol, dan grumosol.
Tanah tua ditandai
oleh proses pembentukan tanah yang berlangsung terus-menerus sehingga terjadi
proses perubahan-perubahan yang nyata pada horizon-horizon A dan B. Contoh
tanah pada tingkat tua adalah jenis tanah podsolik dan latosol tua (laterit).
Lamanya waktu
pembentukan tanah berbeda-beda. Bahan induk vulkanik yang lepas-lepas seperti
abu vulkanik memer lukan waktu 100 tahun untuk membentuk tanah muda, dan 1.000–10.000
tahun untuk membentuk tanah dewasa.
BAB III
METODOLOGI
3.1
ALAT DAN BAHAN
a. ALAT
|
No
|
Nama alat
|
Gambar
|
Fungsi
|
|
1
|
Meteran gulung
|
|
Untuk mengukur panjang atau jarak, mengukur sudut, membuat sudut
siku bahkan membuat lingkaran.
|
|
2
|
Cangkul
|
|
Untuk menggali, membersihkan tanah dari rumput ataupun
untuk meratakan tanah.
|
|
3
|
Sekop
|
|
Untuk mengangkut pasir, menggali, membersihkan tanah dari rumput ataupun untuk
meratakan tanah.
|
|
4
|
Belati
|
|
Untuk memotong akar pohon atau
yang lainnya, jika ada.
|
b. BAHAN
|
No.
|
Nama bahan
|
Gambar
|
Fungsi
|
|
1
|
Kantung sampel
|
|
Untuk menyimpan sampel.
|
BAB
IV
HASIL DAN PEMBAHASAN KELOMPOK 1
4.1
HASIL
PENGAMATAN
Patok
Erosi
|
No
|
Mistar
|
Sebelum
|
Sesudah
|
Posisi
|
|
1
|
Panjang
|
10
cm
|
9,5
cm
|
Atas
|
|
2
|
Merah
|
10
cm
|
9,5
cm
|
Tengah
|
|
3
|
Pendek
|
11
cm
|
10,5
cm
|
Bawah
|
4.2
PEMBAHASAN
Lokasi praktikum terletak pada koordinat N 00o31’45,3’’ E 123o5’16,3’’. Secara
administrati pemerintahan, lokasi praktikum terletak di Desa Buata, Kecamatan
Botu Pingge, Kabupaten Bone bolango, Provinsi Gorontalo. Singkapan yang diamati
terletak di pinggir jalan dengan kondisi agak lapuk, dengan elevasi 24 mdpl,
berwarna abu-abu, bentuklahan pada lokasi praktikum meliputi bentuklahan
denudasional, yang diakibatkan oleh kondisi daerah praktikium telah mengalami pelapukan
dan erosi. Jenis erosi yang terjadi pada
daerah praktikummeliputi erosi alur dan erosi parit. Vegetasi pada daerah
praktikum tergolong sedang. Batuan yang terdapat pada singkapan yaitu batuan
sedimen. Berdasarkan ukuran butir, batuan sedimen pada singkapan terbagi atas
bongkah hingga ukuran pasir, bentuk butirnya menyudut. Porositasnya baik,
sortasi pada singkapan buruk, fragmennya menyudut dan semennya silikat
Jenis
erosi yang terdapat pada lokasi praktikum meliputi erosi alur dan erosi parit.
Erosi alur (rill erosion)terjadi karena adanya pengikisan tanah sehingga mengakibatkan
alur-alur yang searah dengan kemiringan pada lereng. Pada mulanya alur-alur
terbentuk masih dalam skala kecil kemudian menjadi lebih besar kearah bawah
lereng. Kedalaman alur pada lokasi praktikum mencapai ±50 cm dan lebar ±46 cm.
Erosi parit(gully erosion) terjadi karena diakibatkan oleh air dengan sangat kuat. Karena begitu kuat,
maka lereng-lereng yang terkena erosi parit ini akan berbentuk menjadi seperti
parit V atau U. Kedalaman parit pada lokasi praktikum mencapai ±115 cm dan lebar ±127 cm. Erosi parit ini juga merupakan bentuk lebih lanjut dari
erosi alur.Berikut kenampakan dari erosi alur dan erosi parit pada lokasi
praktikum :
·
Patok Erosi 1
Patok
erosi pertama ditancapkan mistar besi panjang dengan kedalaman 10 cm. Setelah
terjadi hujan, permukaan tanah yang awalnya 10 cm tererosi menjadi 9, 5 cm yang
diakibatkan oleh pukulan air hujan yang membawa material permukaan tanah ke
daerah yang lebih rendah.
·
Patok Erosi 2
Patok erosi kedua
dengan menancapkan mistar panjang berwarna merah pada kedalaman 10 cm. Setelah
terjadi hujan, permukaan tanah yang awalnya 10 cm tererosi menjadi 9,5 cm.
Proses tersebut diakibatkan oleh pengelupasan partikel pada permukaan tanah
yang terlepas dan terlempar ke udara kemudian berlanjut pada proses
pengangkutan oleh aliran air tanah.
·
Patok Erosi 3
HASIL
DAN PEMBAHASAN KELOMPOK 2
4.1 HASIL PENGAMATAN SOLUM TANAH
|
No.
|
Lapisan
|
Panjang
|
Warna
|
|
1.
|
Lapisan 1
|
40 cm
|
Coklat kehitaman
|
|
2.
|
Lapisan 2
|
60 cm
|
Putih kecoklatan
|
|
3.
|
Lapisan 3
|
200 cm
|
Putih keabu-abuan
|
4.2 PEMBAHASAN
Berdasarkan
praktikum yang dilakukan di desa Buata kecamatan Botupingge, didapatkan titik
koordinat N 0º 31ʹ 46,3ʺ dan E 123º 5ʹ 16,7ʺ dengan cuaca cerah, vegetasi yang
sedang dan juga terdapat tiga lapisan. Pada lapisan yang pertama kedalaman
lapisannya yaitu 40 cm dan warna tanah coklat kehitaman. Kemudian pada lapisan
kedua memiliki kedalaman lapisan 60 cm dengan warna putih kecoklatan, yang
terdiri dari batuan sedimen dengan batuan penyusunnya berjenis kerakal dengan
diameter antara 2,5 – 10 cm. Kemudian pada lapisan ketiga memiliki kedalaman
lapisan 200 cm, dengan warna putih keabu-abuan yang terdiri dari batuan sedimen
dengan batuan dengan batuan penyusunnya berjenis kerikil.
HASIL
DAN PEMBAHASAN KELOMPOK 3
4.1
HASIL
PENGAMATAN BATUAN PERMUKAAN
1.
Batuan permukaan
Ø Hasil
Pengamatan
Tabel 1
|
Bongkah
10%
|
Krakal
40%
|
Krikil
30%
|
Krakal
50%
|
|
Krikil
10%
|
Krikil
15%
|
Bongkah
20%
|
Pasir
50%
|
|
Krikil
2%
|
Bongkah
5%
|
Krakal
10%
|
Krikil
30%
|
|
Krikil
70%
|
Krikil
30%
|
Krakal
15%
|
Krikil
10%
|
Tabel 2
|
Krikil
30%
|
Krikil
20%
|
Krikil
30%
|
Krikil
30%
|
|
Krikil
50%
|
Krakal
20%
|
Krikil
30%
|
Krikil
20%
|
|
Krakal
30%
|
Krakal
30%
|
Krikil
50%
|
Krikil
40%
|
|
Krikil
20%
|
Krakal
50%
|
Krikil
40%
|
Krikil
20%
|
Tabel 3
|
Pasir
35%
|
Kerikil
45%
|
Kerakal
65%
|
Pasir
75%
|
|
Kerikil
45%
|
Kerakal
50%
|
Pasir
50%
|
Kerikil
56%
|
|
Kerikil
75%
|
Kerakal
60%
|
Pasir
60%
|
Kerikil
45%
|
|
Kerakal
60%
|
Kerikil
65%
|
Pasir
50%
|
Kerakal
70%
|
4.1 PEMBAHASAN
Lokasi
praktikum yang berada didesa Buata Kec. Botupingge, Kab. Bone Bolango. Yang lebih tepatnya berada pada titik
koordinat N 0° 31’ 45’’ dan E 123° 5’
16’’ denga cuaca yang cerah dan vegetasi sedang.setelah melakukan praktikum
tersebut kami dapat mengetahui bahwa kondisi batuan permukaan yang berada
didaerah Buata,sudah sangat kompleks,batuan permukaan yang domonan dilokasi
atau pada kotak pertama tersebut adalah krikil dan krakal.dimana jika dilihat
dari parameter batuan atau koperator persentasi krikil mencapai 30 % dan krakal
sekitar 50%. Sedang kan pada tabel 2 dapat kita lihat bahwa batuana yang lebih
dominan adalah krikil, dimana perssentasi krikil pada kotak ptersebut sebesar
50%.pengukuran yang kami lakukan adalah dengan menggunakan parameter buatan
yaitu dengan membuat 3 peta kotak tanah denga ukuran 2m × 2m dan dibagi menjadi
16 bagian.setelah itu menghitung luas sebaran batuan yang ada dalam peta-peta
kecil tersebut.
Dalam praktikum ini dapat ditarik kesumpulan pula bahwa
dilokasi banyak dijumpai batuan dipermukaan tanah,permukaan tanah tersebut
banyak didomonasi oleh batuan menunjukkakn bahwa daerah tersebut dimungkinkan
telah nengalami erosi yang tinggi atau tingkat pembentukan tanah lebih rendah
dibandingakan dengan tingkat kehilangan tanah akibatnya folume tanah didaerah
tersebut menjadi sedikit sehingga tanah sebagai media prodeksi biomassa menjadi
kecil. Berdasarkan hasil pengamatan secara leseluruhan sampel batuan permukaan
didaerah desa buata beradi bawah <40 sehingga untuk batuan permukaan
didaerah buata ini dinyatakan tidak rusak.jika dilihat dari total persentase
dari setiap batuannya batuan permukaan tersebut termasuk dalah kerusakan yang
ringan.
HASIL
DAN PEMBAHASAN KELOMPOK 4
4.1
HASIL PENGAMATAN KOMPOSISI FRAKSI TANAH
|
Lapisan
|
Persentase Fraksi ( % )
|
Warna
|
Tekstur
|
|
Lapisan I
|
45,52%
|
Putih
|
Pasir sangat halus
|
|
Lapisan II
|
36,87%
|
Krem
|
Pasir halus
|
|
Lapisan III
|
43,29%
|
Cokelat
|
Pasir sedang
|
Deskripsi Singkapan :
Hari/tanggal :
Kamis, 10 Mei 2018
Lokasi praktikum :
Desa Buata, Botu
Pukul :
08:18 a.m
Cuaca :
Cerah
Koordinat :
N 00o31’45,3’’ E 123o5’16,3’’
Elevasi :
25 mbpl
Vegetasi :
Sedang
Bentuk Lahan :
Denudasional
Jenis Singkapan :
Batuan Sedimen
Deskripsi Litologi :
Matriks :
tuf
Fragmen :
Dasit
Besar Butir :
Bongkah-Pasir
Bentuk Butir :
Menyudut
Kemas :
Terbuka
Struktur Sedimen :
Sekunder
Porositas :
Baik
Permeabilitas :
sedang
Sortasi :
Buruk
Kekompakan :
Agak Kompak
Warna :
Abu-abu
Semen :
Silikat
4.2 PEMBAHASAN
Lokasi praktikum terletak pada koordinat N 00o31’45,3’’
dan E 123o5’16,3’’. Secara administratif lokasi ini terletak di Desa
Buata, Kabupaten Bone bolango. Singkapan yang diamati terletak di pinggir jlan
dengan kondisi agak lapuk, bentuk lahan pada lokasi praktikum yaitu bentuk
lahan denudasional, karena kondisi lahan praktikium telah mengalami erosi dan
pelapukan. Erosi yang terjadi berupa
erosi parit dan erosi alur. Vegetasi daerah sekitar singakapan tergolong sedang.
Batuan yang terdapat pada singkapan yaitu batuan sedimen. Berdasarkan ukuran
butir, batuan sedimen pada singkapan terbagi atas bongkah hingga ukuran pasir,
bentuk butirnya menyudut. Porositasnya baik, sortasi pada singkapan buruk,
fragmennya menyudut dan semennya silikat.
Praktikum yang dilaksanakan yaitu komposisi fraksi
tanah, dimana kita mngukur ukuran butir untuk menentukan tekstur dari tanah.
Dalam praktikum, sampel yang diambil terbagi atas tiga sampel dari 3 macam
lapisan yang ada di daerah praktikum. Berdasarkan tabel hasil pengamatan,
tekstur pada lapisan I diperoleh % pasir sangat halus ( ukuran butir seper enam
belas sampai seper delapan) sebesar
45,52% sedangakan pada lapisan II diperoleh pasir halus( ukuran butir seper
delapan sampai seper empat) sebesar 36,87% hal ini menunjukkan bahwa lapisan I
telah mengalami erosi lebih cepat dibandingkan dari lapisan II. Sedangkan
tekstur pada lapisan III ialah berupa pasir sedang ( ukurannya seper empat
sampai seper dua ) sebesar 43,29% dengan
warnanya cokelat hal ini menunjukkan bahwa lapisan III tingkat erosi yang terjadi masih rendah karena kenampakkan
warna menunjukkan bahwa lapisan III masih memiliki unsur kesuburan untuk
tanaman.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
KESIMPULAN
Adapun
kesimpulam yang dapat ditarik adalah Pada lokasi praktikum
terdapat 3 lapisan tanah dengan masing-masing ketebalan, warna serta batuan
penyusunnya yang berbeda-beda, dimana
pada lapisan yang pertama kedalaman lapisannya yaitu 40 cm dan warna tanah coklat
kehitaman. Kemudian pada lapisan kedua memiliki kedalaman lapisan 60 cm dengan
warna putih kecoklatan, yang terdiri dari batuan sedimen dengan batuan
penyusunnya berjenis kerakal dengan diameter antara 2,5 – 10 cm. Kemudian pada
lapisan ketiga memiliki kedalaman lapisan 200 cm, dengan warna putih
keabu-abuan yang terdiri dari batuan sedimen dengan batuan dengan batuan
penyusunnya berjenis kerikil.
5.2
SARAN
Adapun saran yang dapat saya berikan ialah sekiranya
agar pengolahan lingkungan sebaiknya lebih di perhatikan lagi secara baik dan
benar, dan juga pentingnya kesadaran masyarakat sangat diperlukan dalam
memperhatikan lingkungan agar lingkungan yang kita cintai ini dapat terus
terjaga dengan baik. Dalam
melaksanakan praktikum profil tanah sebaiknya memilih tanah yang mudah untuk digali
agar memudahkan penggalian sehingga proses praktikum dapat berrjalan dengan
mudah dan tepat
DAFTAR PUSTAKA
Annonim, 2015 Nama dan jenis tanah. https://
geology.files.wordpress.com/2012/10/
nama-dan-jenis-tanah.pdf.
Diakses pada 25 Mei 2018
Foth. Hendry D. 1998. Dasar-dasar ilmu tanah. Erlangga, Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta

Komentar
Posting Komentar