Review jurnal mengenai fasies gunung api
Assalamualaikum wr.wb.
Kembali lagi bersama saya Alan, di kesempatan kali ini kita akan membahas sebuah jurnal dari seorang ilmuan hebat yang bernama Sutikno Bronto tentang fasies gunung api.
Secara bentang alam, gunung api yang berbentuk kerucut dapat dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya daerah puncak, lereng, kaki, dan dataran disekelilingnya. pemahaman ini kemudian dikembangkan oleh Willliams dan McBirney(1979) dalam Bronto (2006) untuk membagi sebuah kerucut gunungapi komplit menjadi tiga zone yakni :
A. Central zone
Disertakan dengan daerah puncak kerucut gunungapi
B. Proximal zone
Sebandungn dengan daerah lereng gunungapi
C. Distal zone
Sama dengan daerah kaki serta datarann disekeliling gunungapi. Namun dalam uraiannya, kedua penulis tersebut sering menyebut zone dengan facies sehingga menjadi central facies , proximal facies, dan distal facies.
Istilah facies digunakan untuk menunjukan fariasi batuan berdasarkan sifat fisik kimia dan biologi yang terendapkan pada skala geologi tertentu ( fishear and schminck 1984). dalam syabaruddin (2003). facies lebih banyak digunakan untuk batuan sedimen, namun sekarang facies dapat diterapkan untuk menunjukan penyebaran endapan gunung api pebagian facies pada ciri masing-masing facies gunungapi yang dibuat oleh Bogie&Mackhenzie(1998) dalam marfei, (2012) didasarkan pengamatan terhadap proses dan produk erupsi gunung api aktif masa kini, mak jenis bahaya gunung api pada setiap facies gunung api dapat diperkirakan. dalam facies sentral dan proximal gunung api, jenis bahaya yang dapat terjadi adalah lontaran batu pijar ( bom/blok gunung api), hujan abu, gas beracun, awan panas (aliran piroklastika), aliran lava, dan guguran kubah lava. bahaya gunung api pada medial adalah awan panas, hujan abu, aliran lahar,sedangkan bahaya gunung api pada fasies distal berupa hujan abu, aliran lahar dan banjir.
A. Fasies gunung api terdiri atas beberapa fasies diantaranya:
1. facies central
2. facies proximal
3. facies medial, dan
4. facies distal
Pada gunung api muda, berumur kuarter- masa kini., pembagian faciesnya relatif mudah karena didukung oleh bentuk bentang alam berupa kerucut komposit yang masih sangat jelas. facies sentral didaerah puncak, facies proximal di lereng atas, facies medial di lereng bawah,dan facies distal berada dikaki dan dataran disekelilingnya.
B. Untuk gunung apip purba, berumur tersier atau lebih tua, dimana bentuk kerucut kempositnya sudah tidak jelas, identifikasi fasies gunung api perlu diteleiti berdasarkan pada pendekatan analisis inderaja-geomorfologi, statigrrafi batuan gunung api,vulkanologi fisik, struktur geologi, serta petrologi geokimia .
C. Pembagian facies gunung api dapat dimanfaatkan untuk mendukung pencarian sumber baru mineral dan energi, penataan lingkungan hidup termasuk tata ruang dan penyediaan air bersih serta mendukung usaha penanggulangan bencana geologi.
Sekian pembahasan untuk kali ini, terima kasih buat teman-teman yang sudah berkunjung...😁😁😁
Kembali lagi bersama saya Alan, di kesempatan kali ini kita akan membahas sebuah jurnal dari seorang ilmuan hebat yang bernama Sutikno Bronto tentang fasies gunung api.
foto Sutikno Bronto
- Review jurnal mengenai fasies gunung api
Secara bentang alam, gunung api yang berbentuk kerucut dapat dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya daerah puncak, lereng, kaki, dan dataran disekelilingnya. pemahaman ini kemudian dikembangkan oleh Willliams dan McBirney(1979) dalam Bronto (2006) untuk membagi sebuah kerucut gunungapi komplit menjadi tiga zone yakni :
A. Central zone
Disertakan dengan daerah puncak kerucut gunungapi
B. Proximal zone
Sebandungn dengan daerah lereng gunungapi
C. Distal zone
Sama dengan daerah kaki serta datarann disekeliling gunungapi. Namun dalam uraiannya, kedua penulis tersebut sering menyebut zone dengan facies sehingga menjadi central facies , proximal facies, dan distal facies.
Istilah facies digunakan untuk menunjukan fariasi batuan berdasarkan sifat fisik kimia dan biologi yang terendapkan pada skala geologi tertentu ( fishear and schminck 1984). dalam syabaruddin (2003). facies lebih banyak digunakan untuk batuan sedimen, namun sekarang facies dapat diterapkan untuk menunjukan penyebaran endapan gunung api pebagian facies pada ciri masing-masing facies gunungapi yang dibuat oleh Bogie&Mackhenzie(1998) dalam marfei, (2012) didasarkan pengamatan terhadap proses dan produk erupsi gunung api aktif masa kini, mak jenis bahaya gunung api pada setiap facies gunung api dapat diperkirakan. dalam facies sentral dan proximal gunung api, jenis bahaya yang dapat terjadi adalah lontaran batu pijar ( bom/blok gunung api), hujan abu, gas beracun, awan panas (aliran piroklastika), aliran lava, dan guguran kubah lava. bahaya gunung api pada medial adalah awan panas, hujan abu, aliran lahar,sedangkan bahaya gunung api pada fasies distal berupa hujan abu, aliran lahar dan banjir.
A. Fasies gunung api terdiri atas beberapa fasies diantaranya:
1. facies central
2. facies proximal
3. facies medial, dan
4. facies distal
Pada gunung api muda, berumur kuarter- masa kini., pembagian faciesnya relatif mudah karena didukung oleh bentuk bentang alam berupa kerucut komposit yang masih sangat jelas. facies sentral didaerah puncak, facies proximal di lereng atas, facies medial di lereng bawah,dan facies distal berada dikaki dan dataran disekelilingnya.
B. Untuk gunung apip purba, berumur tersier atau lebih tua, dimana bentuk kerucut kempositnya sudah tidak jelas, identifikasi fasies gunung api perlu diteleiti berdasarkan pada pendekatan analisis inderaja-geomorfologi, statigrrafi batuan gunung api,vulkanologi fisik, struktur geologi, serta petrologi geokimia .
C. Pembagian facies gunung api dapat dimanfaatkan untuk mendukung pencarian sumber baru mineral dan energi, penataan lingkungan hidup termasuk tata ruang dan penyediaan air bersih serta mendukung usaha penanggulangan bencana geologi.
Sekian pembahasan untuk kali ini, terima kasih buat teman-teman yang sudah berkunjung...😁😁😁

Komentar
Posting Komentar